Hanabi : Festival Kembang Api Khas Musim Panas Di Jepang

Jepang adalah negara yang memiliki keunikan tersendiri pada setiap musimnya. Musim Semi (haru) identik dengan bunga sakuranya yang indah, musim gugur identik dengan daun maple yang berubah warna kemerahan, sedangkan musim dingin (fuyu) yang meskipun sangat dingin justru memiliki pesona hujan salju yang menawan. Lalu bagaimana dengan musim panas?

Sebagai orang Indonesia yang lahir, tinggal, dan tumbuh di Indonesia, pada awalnya saya merasa musim panas di Jepang tidak ada istimewanya. Biasa saja karena saya sudah terbiasa dengan cuaca panas yang begitu menyengat. Namun begitu tsuyu (musim hujan sebagai musim peralihan dari musim semi ke musim panas) berakhir, paradigma saya berubah total. Musim panas di Jepang juga istimewa.

Musim Panas di Jepang sangat identik dengan perayaan-perayaan yang kental akan nuansa kearifan lokal Jepang seperti festival tanabata, gion matsuri, ine matsuri, obon matsuri, dan lain sebagainya. Memang sebagian besar perayaan-perayaan tradisional digelar pada musim panas. Selain itu, pantai yang semula amat sangat sepi pengunjung menjadi sangat ramai karena pada musim panas masyarakat Jepang biasanya memanfaatkan kesempatan untuk berenang dan berekreasi di pantai. Tentu ini adalah moment langka karena hanya bisa dilakukan saat musim panas saja. Lain halnya di Indonesia, setiap hari berenang di pantai sampai lelahpun tidak ada yang melarang, hehehe.

Dari semua aktivitas musim panas yang saya sebutkan diatas, ada salah satu aktivitas yang menjadi puncak sekaligus ikon musim panas, yaitu Festival Kembang Api yang biasa disebut Hanabi. Seperti yang kita tahu, hanabi biasanya di gelar saat tahun baru. Namun di Jepang hanabi justru dirayakan saat musim panas. Kenapa ya?

Secara garis besar, kembang api di luar Jepang dibuat dengan memasukkan bubuk mesiu ke dalam wadah berbentuk silinder. Oleh karena itu, kembang api yang dihasilkan kebanyakan berbentuk seperti air mancur. Sementara di Jepang, bubuk mesiu dimasukkan dalam wadah berbentuk bulat sehingga kembang api yang dihasilkan akan berbentuk seperti lingkaran. Pict credit : Japan Culture Review

Mengutip dari www.matcha-jp.com, sejarah kembang api berawal dari zaman Edo dimana pada Bulan Agustus 1613, pelopor era keshogunan Edo Ieyasu Tokugawa, mendapatkan hadiah berupa kembang api dari pedagang Tiongkok dan Raja Inggris, James I. Kesukaannya terhadap hadiah itulah yang mengawali budaya kembang api di Jepang. Seiring dengan berkembangnya kepopuleran kembang api, tokoh-tokoh penting dari Edo (Tokyo di masa lalu) sering berkumpul di tepi Sungai Sumida sambil menikmati hembusan angin dan keindahan kembang api.

Festival kembang api untuk publik pertama kali diadakan tahun 1733. Saat itu, kembang api dinyalakan di tepi Sungai Sumida untuk menghibur publik serta menenangkan arwah 1 juta orang yang meninggal di tahun sebelumnya akibat kemiskinan.

Acara yang kemudian dikenal sebagai Festival Kembang Api Sumidagawa itu pun menjadi festival tahunan musim panas. Seiring dengan perkembangannya, Setiap musim panas, festival kembang api selalu dirayakan pada seluruh wilayah di Jepang. Ternyata, kembang api diadakan bukan untuk merayakan sesuatu seperti tahun baru melainkan untuk menikmati keindahan kembang api itu sendiri.

Di tempat saya internship, Hanabi diadakan pada Sabtu, 24 Agustus 2019 dengan durasi sekitar 1,5 jam. Saat itu, banyak terdapat stand-stand makanan khas Jepang seperti Takoyaki, Okonomiyaki, Yaki soba, dan es khas musim panas, yaitu Kaki gori.

Kaki Gori (es serut khas musim panas)

Meskipun saat itu saya bekerja, namun saya tetap bisa melihat kembang api dari Funaya Shokudo tempat saya bekerja. Berikut adalah video keindahan hanabi yang sempat saya abadikan.