Mepantigan, Gulat Ala Bali di Lumpur

MEPANTIGAN mungkin terdengar asing bagi kebanyakan orang Indonesia. Yup! Karena sejatinya Mepantigan justru lebih dikenal oleh wisatawan mancanegara karena keunikannya. Sebenarnya, apa dan gimana sih Mepantigan itu?

Mepantigan merupakan bentuk seni bela diri tradisional Bali yang melibatkan teknik fisik serupa dengan seni bela diri di seluruh dunia seperti judo, karate, dan pencak silat yang dimainkan secara berkelompok antara 10 – 50 orang pada kubangan lumpur persawahan.

Mepantigan

Dalam permainannya, Mepantigan melibatkan partisipasi wisatawan sehingga atraksi ini disebut sebagai atraksi atau aktivitas wisata . Mepantigan merupakan seni bela diri yang berbeda dengan seni bela diri lain yang ada di Indonesia, dapat dilihat dari gerakannya yang mengutamakan kuncian dan bantingan, serta dipadukan dengan budaya tradisional Bali. Mepantigan diambil dari bahasa daerah dan kearifan lokal Bali, yaitu pantig yang artinya banting atau secara harafiah, Mepantigan dapat diartikan saling membanting.

Mepantigan memerlukan partisipasi wisatawan

Mepantigan diciptakan oleh Bapak Putu Witsen Widjaya sebagai atlet dan penekun seni bela diri tradisional Bali. Menurut Bapak Putu, Mepantigan tidak hanya sebagai seni bela diri, namun juga mengandung filosofi yang sarat dengan rasa syukur, solidaritas, sportivitas, dan keharmonisan. Menurut keterangan dari Bapak Komang Divasaka selaku pengelola dan pelatih, Mepantigan dilakukan pada kubangan lumpur persawahan yang dahulu hanya dipentaskan sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan. Namun, seiring perkembangangannya, Mepantigan dijadikan aktivitas wisata dan hiburan.

Mepantigan

Dari segi busana, untuk lebih menekankan ciri khas dan filosofi kehidupan Bali, Mepantigan menggunakan kain yang diikat sedemikian rupa menjadi seperti celana pendek dipadukan dengan ikat kepala khas Bali yang biasa disebut Udeng klasik dengan didominasi oleh tiga warna, yaitu warna merah, putih, dan hitam (Tri Datu). Busana dengan konsep Tri Datu ini merupakan busana pencak silat Bali Kuno. Menurut kepercayaan Hindu, tiga warna ini merupakan simbol suci dari Tri Murti, Tri Pramana, dan Tri Kaya Parisudha yang menuntun umat Hindu dalam mencari jati dirinya, sehingga dapat meningkatkan kualitas dirinya menjadi lebih baik.

Pada sisi olahraga, Mepantigan memadukan unsur bela diri seperti pencak silat, judo, dan karate dengan tari heroik khas Bali yaitu Tari Kecak dan Baris. Sepanjang permainan, musik Bali berupa Gamelan Baleganjur, Rindik, Kulkul dipergunakan sebagai musik pengiring yang berfungsi untuk menyemarakkan serta memberi semangat selama Mepantigan berlangsung.

Lumpur dijadikan sebagai suatu identitas pengenalan diri dari Pondok Mepantigan. Makanan dan minuman yang disajikan mengangkat tema lumpur seperti nasi lumpur, tipat lumpur, kopi lumpur, serta makanan sederhana yang diolah dengan bebas MSG. Sebagai atraksi wisata budaya yang unik, Mepantigan sebenarnya sudah pernah diliput oleh beberapa channel TV Nasional seperti Kompas TV, Trans TV, NET, dan Channel Internasional seperti FOX TV dan Discovery Channel. Selain itu, Hal tersebut membuktikan eksistensi Mepantigan baik nasional maupun internasional.