Tentang Kinkakuji : Sejarah dan Kemegahannya

Ketika mendengar kata “Kyoto” yang terbesit dibenak kita pastilah keunikan budaya dan kemegahan kuilnya seeperti Kuil Kiyoumizudera, Kuil Yasaka, dan Fushimi Inari Taisha. Selain ketiga kuil tersebut, ada salah satu kuil yang juga menjadi ikon Kyoto bahkan ikonnya Jepang sekalipun, yaitu Kuil Kinkakuji yang pernah saya dan Desi kunjungi bulan Juli tahun 2019 lalu.

Apa yang membuat Kuil Kinkakuji menarik?

Kuil Kinkakuji adalah sebuah kuil Budha yang terletak agak jauh dari pusat Kyoto. Dari stasiun Kyoto, kita dapat mengakses tempat ini dengan menumpang Bus Kota Kyoto (Kyoto City Bus) nomor 101 ataupun bus nomor 205 selama kurang lebih 40 menit. Ongkos untuk sekali jalan adalah 230 yen. Saat itu cuaca sedang terik-teriknya karena sudah masuk musim panas di Jepang. Meskipun begitu, kami tetap semangat dan berharap agar cuaca tetap bersahabat.

Setelah 40 menit perjalanan, penumpang bus yang sebagian besar adalah orang asing turun di halte pemberhentian bus di depan objek wisatanya. Untuk masuk ke dalam objek wisata, para wisatawan dikenakan biaya tiket sebesar 400 yen. Setelah mendapat tiket, tanpa basa-basi kami masuk ke area objek wisatanya. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan pemandangan yang sungguh asri dan sejuk. Pohon maple dan sakura yang banyak tumbuh disekitarnya pasti akan lebih indah saat musim gugur dan musim semi nanti.

Hal menarik yang menjadi fokus perhatian saya adalah kuilnya yang berlapiskan emas membuat saya takjub bukan main. Meskipun bukan emas sungguhan, tetapi pesonanya membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona. Megah dan benar-benar berkilau.

Menelisik dari sejarahnya, Kuil Kinkakuji adalah kuil yang didirikan pada 1397 oleh Shogun ketiga era Zaman Muromachi, yaitu Asahikaga Yoshimitsu. Kuil yang sudah terdaftar sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO ini dulunya adalah sebuah villa tempat peristirahatan shogun Ashikaga Yoshimitsu. Anaknya kemudian mengubah bangunan tersebut menjadi kuil Zen (Wikipedia, 2019). Meskipun Kinkakuji pernah mengalami peristiwa kebakaran berkali-kali, namun arsitek Jepang berhasil membangun kembali dan mempertahankan keagungannya hingga saat ini.

Meskipun wisatawan tidak diperbolehkan masuk ke dalam kuil dan hanya bisa mengamati keindahan kuil ini dari seberang sisi danau, namun pihak pengelola objek wisata Kuil Kinkakuji memberikan sebuah pamflet yang berisikan gambaran umum tentang kuil tersebut.

Kuil Kinkakuji terdiri atas dua lantai. Setiap lantainya memiliki gaya arsitektur yang berbeda. Lantai pertama dibangun dengan gaya Shinden, yang digunakan untuk bangunan istana selama periode Heian dengan pilar kayu alami dan dinding plester warna putihnya yang kontras. Dinding kuil juga dilengkapi dengan cerita-cerita di atas paviliunnya yang disepuh. Ada juga patung Buddha Shaka dan Yoshimitsu yang bersejarah disimpan di lantai pertama.

Sementara itu, di lantai dua dipilih gaya Bukke yang digunakan sebagai tempat tinggal para samurai, dan eksteriornya benar-benar tertutup daun emas. Di dalam lantai ini ada Bodhisattva Kannon yang duduk di kelilingi oleh patung-patung empat raja surgawi. Namun, sayangnya patung tersebut tidak diperlihatkan ke pengunjung.

Setelah puas berkeliling dan menikmati keagungan Kinkakuji, kami kembali ke halte bus untuk trip selanjutnya yaitu Ginkakuji, Silver Pavilion yang juga berada di Kyoto ini. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang Ginkakuji, karena memang waktu berkunjung kami waktu itu sangat singkat dan terburu-buru karena harus segera kembali ke Ine.

Ginkakuji

Saat musim semi nanti, saya dan Desi akan mengunjungi kuil ini sekali lagi, dan saat itulah akan saya ceritakan lebih banyak ya!

Ja ne… (sampai jumpa ya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *