Mengenal Keunikan Tradisi dan Kearifan Lokal Masyarakat Desa Sasak Ende

Indonesia selain terkenal memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah juga memiliki kebudayaan dan kearifan lokal yang beragam dari Sabang sampai Merauke. Setiap budaya di Indonesia memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing, salah satunya keunikan tradisi dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Desa Sasak Ende, Lombok, Nusa Tenggara Barat  yang sampai saat ini masih diwariskan secara turun temurun.

Signage di depan Desa Sasak Ende

Masih dalam rangkaian Musyawarah Wilayah Himpunan Mahasiswa Pariwisata Indonesia (HMPI) di Lombok 2-3 Februari lalu, kami berkesempatan untuk menyambangi masyarakat Suku Sasak Ende di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Desa ini terletak sekitar 20 menit dari Bandara Internasional Lombok atau 60 menit dari Kota Mataram.

Desa ini dihuni oleh 30 KK atau sekitar 135 orang. Sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai peternak sapi dan petani oleh karenanya rumah adat di desa ini dinamakan Bale Tani. Ada yang unik dari rumah ini, yaitu terbuat dari material alami seperti bambu, lantai tanah liat, dan atap alang-alang. Selain itu, atap rumah ini dibuat lebih rendah daripada rumah pada umumnya. Hal tersebut mengandung filosofi dimana ketika kita masuk ke rumah tersebut harus menundukan kepala dan mengucapkan “Tabik Balar” yang artinya permisi sebagai bentuk hormat dan sopan santun kepada tuan rumah.

Bentuk Rumah Adat “Bale Tani” Desa Sasak Ende

 

Bagian dalam Bale Tani sebagai ruangan untuk tidur dan menyimpan hasil panen

Lantai dari rumah ini terbuat dari tanah liat yang sesekali di mop dengan kotoran sapi atau kerbau. Fungsi kotoran ternak ini untuk merekatkan tanah liat agar tidak mudah retak. Selain itu, kotoran sapi atau kerbau dipercaya sebagai simbol kerja keras petani dan kotoran ternak ini dipercaya bisa mengusir nyamuk saat musim panas.  

Menurut keterangan pemandu lokal yang memandu kami menyatakan bahwa suami istri tidurnya terpisah. Istri dan anak perempuannya akan tidur di dalam, sedangkan sang suami dan anak laki-laki yang berumur 7 tahun harus tidur diluar.

Lebih lanjut, Desa ini juga memiliki tradisi kawin lari dan harus menikah dengan orang satu kampung. Bagi pasangan yang akan menikah, si pria akan menjemput calon istrinya dan tidak boleh diketahui oleh keluarga si perempuan. Oleh karena itu, biasanya aksi memaling ini dilakukan saat malam hari. Si perempuan akan diajak ke rumah si pria dan tinggal sekitar beberapa hari, baru kemudian keluarga si pria datang ke rumah si perempuan untuk melamar secara resmi.

Selain tradisi tersebut, semua perempuan di desa ini diwajibkan untuk bisa menenun. Jika belum bisa menenun, perempuan tersebut tidak diperbolehkan menikah. Alasannya karena menenun adalah pekerjaan yang sulit, rumit, dan butuh kesabaran yang tinggi. 

Tradisi menenun di Desa Sasak Ende

 

Salah satu hasil kerajinan tenun Di Desa Sasak Ende

Jika si perempuan sudah bisa menenun, maka dipercaya sudah bisa membina rumah tangga bersama suaminya kelak dan mampu menjaga anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Wah… kalau tidak mau belajar menenun, berarti akan jadi perawan tua dong ya.. hmm.

Jika para perempuan di desa ini harus bisa menenun, maka para lak-laki harus bisa berperang. Lho? Berperang? Bukan berperang melawan penjajah ya temen-temen, tetapi bisa menari tarian perang khas Desa Sasak Ende yaitu Tari Peresean. Tari Peresean ini adalah tari yang dilakukan untuk membuktikan kejantanan dan ketangkasan seorang pria. Selain itu, tari ini dilakukan sebagai ritual untuk memohon hujan dan akhir-akhir ini juga ditarikan sebagai salah satu atraksi wisata budaya. 

Tarian Peresean sebagai tari khas Desa Sasak Ende

Tari Peresean ini ditarikan oleh 3 orang, 1 orang sebagai wasit, 2 orang lainnya sebagai pepadu (prajurit yang akan berperang) Tari ini menggunakan beberapa properti seperti tameng yang disebut ende dan tongkat rotan. Kostumnya pun sangat sederhana yaitu kain pengikat kepala dan kamen. Dalam permainannya akan didahului oleh gambelan dan tarian dari wasit, baru ketika wasitnya meniup peluit, pepadu diperbolehkan untuk bertarung. Pepadu tidak boleh memukul badan bagian bawah seperti paha atau kaki, tapi Pepadu diperbolehkan memukul bagian atas seperti kepala, pundak atau punggung. Pepadu tersebut dinyatakan kalah apabila sudah menyerah atau berdarah. Meskipun demikian, ada minyak khusus yang digunakan agar luka tersebut tidak perih dan cepat sembuh. Meskipun tarian ini dimainkan oleh orang dewasa, namun anak-anak di desa ini sudah dilatih untuk menarikan tari perang ini. 

Tari Peresean yang ditarikan oleh anak-anak

 

Wasit Tari Peresean anak-anak

Berikut ini beberapa video yang berhasil kami dokumentasikan selama berada di lokasi. 

Berkaitan dengan keunikan dan kearifan lokal yang dimiliki, Desa Sasak Ende menjadi salah satu desa yang saat ini dibina oleh BUMN dan ITDC. Terbukti dari hasil binaan tersebut para warga lokal sudah ada yg bisa menjadi pemandu wisatawan baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Anak-anak di Desa Ende ini pun dilatih untuk menyambut tamu, bahkan ketika kami berfoto, anak-anak akan menyanyikan sebuah lagu dan memandu kami untuk berpose. Hehe gemes banget!