Cerita Unik di Balik Festival Tanabata di Jepang

Sama seperti Bali, Jepang memiliki banyak sekali festival, terutama festival yang diselenggarakan saat musim panas. Salah satunya adalah Festival Tanabata atau Tanabata no matsuri yang identik dengan festival permohonan. Festival Tanabata juga disebut sebagai Festival Bintang. Mengapa disebut festival Bintang? Ternyata ada legendanya lho!

Dilansir dari www.matcha-jp.com, Legenda Tanabata berasal dari Tiongkok, tetapi kisahnya sudah lama dikenal di Jepang dan diceritakan secara turun-temurun.  Legenda ini berkisah tentang 2 bintang, yaitu Orihime (bintang Vega, seorang Dewi Tenun) dan Hikoboshi (bintang Altair, seorang penggembala). Mereka saling jatuh cinta hingga mereka melupakan dan mengabaikan tugasnya masing-masing.

Hal ini membuat Tentei (Dewa Langit) murka hingga ia memisahkan keduanya. Namun, karena rasa iba terhadap keduanya, akhirnya Dewa Langit mengijinkan mereka berdua bertemu walaupun hanya satu kali dalam satu tahun. Mereka bisa bertemu saat burung syurga melebarkan sayapnya sehingga membentuk jembatan di sungai syurga, pada tanggal 7 Juli. Orihime dan Hikoboshi terus bekerja keras melaksanakan tugasnya sepanjang tahun demi satu hari pertemuan yang begitu mereka tunggu-tunggu, yaitu Hari Tanabata. Oleh karena itulah Festival Tanabata dirayakan setiap tanggal 7 Juli. Lalu seperti apa perayaan Tanabata itu?

Tanabata dirayakan dengan menghias sebatang bambu dengan kertas warna-warni dibagian rantingnya. Hiasan bambu tersebut biasanya dipajang pada tempat-tempat umum seperti mall, stasiun, sekolah, jalan-jalan di kota besar, dan lain sebagainya.

Pohon Tanabata di Taman Tokugawa (Via instagram @k_kunigunda)

Festival Tanabata (Via www.japankuru.com)

Potret Festival Tanabata pada malam hari

Di hotel tempat saya internship pun Tanabata dirayakan dengan memajang hiasan bambu sederhana di lobby.

Hiasan Bambu sederhana di Okuine Onsen Aburaya

Yang paling unik dari Festival Tanabata ini adalah adanya tradisi menulis harapan, permohonan, atau doa pada selembar kertas warna-warni yang disebut Tazaku. Orang-orang menuliskan permohonan dan doa-doa mereka, kemudian menggantungkannya pada ranting Pohon Tanabata sambil berharap agar para dewa melihat dan mengabulkannya. Saya pun menyempatkan diri untuk menulis permohonan, hehehe.

Pohon Tanabata

Melihat Pohon Tanabata, saya jadi teringat dengan Penjor (hiasan bambu) yang dibuat saat hari raya Galungan dan Kuningan di Bali. Hmmm.. jadi kangen rumah.