Pengalaman Lasik Mata di RS Mata Bali Mandara (Part II)

Benar kata pepatah, mata adalah jendela dunia. Mata adalah alat vital yang sangat mempengaruhi produktivitas dalam hidup kita. Tanpa mata yang sehat, kita tidak akan bisa beraktivitas dengan nyaman. Sebenarnya, alasan utama saya lasik adalah bukan karena ingin mengubah penampilan, namun sakit kepala yang saya rasakan setiap hari membuat saya merasa sangat tidak nyaman, aktivitas pun sangat terganggu.

Saya adalah salah satu penderita miopia (rabun jauh) dan astigmatism (silinder) yang sudah 10 tahun bergantung dengan kacamata, hingga akhirnya saya memutuskan untuk operasi lasik di RS Mata Bali Mandara.

Seperti yang sudah saya jelaskan pada artikel sebelumnya, ada 3 tahapan dalam operasi lasik, yaitu :

  1. Screening (Pre-Lasik)

2. Lasik (operasi utama/main surgery)

3. Kontrol (Pasca – lasik)

Bagi kalian yang belum membaca bagaimana proses dan pengalaman screening lasik yang saya post  pada artikel sebelumnya, yuk klik disini.

Nah, setelah proses screening dilakukan dan mata  layak dilasik, proses selanjutnya adalah operasi lasik itu sendiri. Kapan operasinya dilakukan itu tergantung dari kesepakatan antara dokter dan pasien, namun yang jelas hasil screening hanya berlaku 1 bulan setelah hasilnya keluar. Jika kita mau lasiknya 1,5 bulan depan, maka dokter akan menyarankan untuk screening ulang which is itu perlu biaya lagi Rp 900.000.

Saya memilih untuk dilasik hari Jumat, 22 Mei 2020 (4 hari setelah saya screening pada 18 Mei 2020). Waktu 4 hari saya rasa cukup untuk menata hati dan pikiran agar lebih tenang, lagupula saya sudah tidak sabar untuk  segera terlepas dari kacamata tebal ini, huhuhu.

Well, 22 Mei 2020 pun tiba, sama seperti ketika screening pertama kali, saya harus ambil nomor antrian khusus lasik dan melakukan registrasi di loket. Setelah itu langsung naik ke Bali Lasik Center di Lantai III.

Ternyata hari itu, bukan hanya saya saja yang akan melakukan operasi lasik, ada satu orang lagi yang minusnya kalau tidak salah – 3,5. Karena saya datangnya belakangan, maka saya dapat nomor antrian 2.

Setelah registrasi lagi di loket lasik, seluruh persiapan lasik pun dilakukan, mulai dari cek tekanan darah, pakai pakaian operasi, dan lain sebagainya. Setelah pasien pertama selesai, tibalah giliran saya. Oh My God, sebentar lagi saya akan mengalami perubahan besar dalam diri saya, pikir saya waktu itu. Rasa tegang bercampur aduk dengan rasa senang, excited gitu, hehehe.

Masuk ruangan operasi, saya tidak bisa melihat terlalu jelas karena  sudah lepas kacamata. Namun, kira-kira, mesin lasik metode relex smile yang digunakan kira-kira seperti gambar dibawah ini.

sumber : www.zeiss.com

Saya juga melihat samar-samar beberapa perawat dan seorang dokter yang akan melakukan tindakan lasik terhadap mata saya. Saya diminta untuk berbaring pada mesin, mata saya diteteskan obat bius agar tidak merasakan sakit saat operasi. Selain itu disekitar mata juga usapkan cairan seperti betadine, saya tidak tahu fungsinya untuk apa, namun sensasi dingin dari cairan itu membuat mata saya sedikit lebih rileks. Kemudian, mata kanan saya disangga dengan semacam alat penyangga agar mata tetap terbuka. Dari situlah, ketegangan mulai terasa, hahaha.

Setelah persiapan selesai, mesin secara otomatis membawa saya ke tempat dimana dokter akan melakukan tindakan lasik. Saat itu, mata saya kembali diteteskan dengan obat bius, agar mata lebih rileks. Sang Ophthalmologist pun membacakan ringkasan diagnosa kondisi mata saya dan target yang ingin dicapai, yaitu mengembalikan mata saya menjadi normal, alias minus dan silinder 0!! Saat dibacakan ringkasan itu, senangnya bukan main. Sebentar lagi saya tidak akan tergantung lagi dengan kacamata. Yes!

Setelah itu, mesin secara otomatis membawa saya ke tempat laser, laser seolah menempel di mata saya, dan itu yang bikin deg-deg’an banget, huhu. Saya hanya diminta untuk fokus ke 1 titik hijau. Sang Ophthalmologist menghitung mundur selama 24 detik, yaa proses lasernya hanya 24 detik! Cepet banget. Setelah 24 detik, mesin laser otomatis terangkat dari mata saya dan seketika saya merasa silau, dokter pun mengeluarkan kornea yang dilaser dan mengkoreksi ukuran kornea saya. Saat itu, dokter selalu menegur saya agar fokus pada 1 titik lampu yang berada diatas. Meskipun sama sekali tidak sakit, ternyata rasa tegang itu tidak bisa disembunyikan padahal saya sudah berusaha serileks mungkin, hahaha.

Oke, mata kanan selesai, selanjutnya mata kiri. Mata kiri pun mendapat treatment yang sama seperti mata kanan. Dipasang alat penyangga, ditetes obat bius, dilaser 24 detik, dan dikoreksi korneanya oleh dokter. Sip, operasi lasik pun selesai dilakukan. Waktu yang dibutuhkan untuk keseluruhan proses di ruang operasi tidak lebih dari 15 menit. Wow..

Setelah keluar dari meja operasi, saya sudah bisa melihat dengan jelas tulisan-tulisan kecil yang sebelumnya tidak bisa dilihat tanpa bantuan kacamata, namun mata rasanya seperti ada pasir yang mengganjal, keluar air mata terus menerus , dan terasa kering.  Kata dokter itu adalah hal yang sangat wajar dan akan berangsur-angsur membaik.

Dokter memberikan obat tetes dan obat minum penghilang rasa nyeri, obat tetes bervitamin untuk mencegah mata kering, dan kacamata seperti kacamata renang yang harus dipakai ketika tidur agar mata tidak terkucek dan tidak terkena debu. Jika berada di luar ruangan, dokter mewajibkan untuk menggunakan kacamata hitam untuk mengurangi rasa silau. Selain itu, saya juga dilarang keramas dan make up selama 1 minggu, yang penting sebisa mungkin jangan sampai kata terkena air karena akan cepat iritasi.

optometrist meneteskan obat penghilang nyeri ke mata saya sesaat setelah operasi
optometrist menjelaskan cara pemakaian obat tetes
Kacamata untuk melindungi mata agar tidak terkucek dan kemasukan debu

Setelah mendengar beberapa penjelasan, saya diperbolehkan  pulang dan diwajibkan berisitahat total alias tidak boleh nonton TV maupun main HP. Jadilah, hari itu saya hanya tidur dan mengkonsumsi obat yang diresepkan oleh dokter baik obat tetes maupun obat penghilang rasa nyeri. Mata berangsur-angsur membaik namun masih terasa kering, sesekali terasa mengganjal, apalagi mata kanan. Mungkin karena mata kanan saya minus dan silindernya lebih parah.

Setelah main surgery terlewati, saya diwajibkan untuk melakukan kontrol mata sesuai anjuran dokter, yaitu kontrol 1 hari, 2 minggu, dan 1 bulan pasca lasik. Ketika kontrol hari pertama, mata saya diperiksa dan ditest dengan Snellen chart, alhasil saya bisa melihat 20/20 alias NORMAL bahkan penglihatannya saya diklaim kembali tajam seperti mata bayi. Finally, my vision is back!

Setelah kontrol pertama, saya tetap diresepkan obat tetes dan vitamin mata untuk mempercepat proses pemulihan hingga kontrol terakhir yang saya lakukan tanggal 3 Juli 2020 lalu.

Yang saya rasakan pasca lasik adalah :

  1. Ketika baru saja selesai operasi, saya sudah bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata namun kondisi matanya masih sangat kering dan mengganjal seperti kelilipan. Namun setelah terus menerus diteteskan sesuai resep dokter, nyerinya mulai berkurang.
  2. H+1, H+2, sampai 1 minggu pertama masih ada rasa kering pada mata, namun setelah 1 bulan berlalu, kini mata saya benar-benar tajam dan mata kering yang sering saya keluhkan saat awal-awal lasik sudah mulai berkurang bahkan obat tetes yang awalnya harus diteteskan ke mata setiap 1 – 2 jam, kini sudah bisa bisa diteteskan hanya 3 kali sehari atau saat mata terasa kering saja.

BIAYA OPERASI LASIK DI RS MATA BALI MANDARA

Setelah panjang lebar cerita tentang proses dan pengalaman lasik, pasti banyak yang penasaran dengan total biaya yang saya habiskan selama operasi lasik karena operasi lasik ini belum dicover oleh BPJS Kesehatan dan asuransi apapun. Total biaya yang saya keluarkan dari registrasi, screening, lasik, sampai pasca operasi lasik adalah Rp 31.185.000, dengan rincian sebagai berikut.

  1. Biaya registrasi awal (pembuatan kartu ) = Rp 185.000
  2. Screening lasik =Rp 900.000
  3. Operasi relex smile = Rp 28.975.000 untuk 2 mata
  4. Obat-obatan (obat tetes, obat tablet, vitamin yang diresepkan) = Rp 600.000
  5. Kontrol 3x @Rp 175.000 = Rp 525.000

Biaya yang saya keluarkan diatas adalah biaya diluar obat tetes yang saya beli sendiri di apotek ketika obat tetesnya habis dan kacamata anti radiasi untuk melindungi mata dari sinar biru komputer dan gadget.

Mahalnya operasi mata membuat saya sangat concern terhadap kesehatan mata. Kesempatan kedua yang diberikan Tuhan kepada saya ini sebisa mungkin tidak akan saya sia-siakan. Bagi kalian yang ingin operasi lasik, jangan ragu dan jangan takut. Lasik sama sekali tidak sakit! Bagi kalian yang masih diberikan mata yang sehat dan normal, yuk jaga kesehatan matamu, karena sekali lagi mata adalah jendela dunia.

Bagi yang ingin bertanya seputar lasik, jangan ragu tinggalkan komentar dibawah ini ya! Jangan lupa like and share.

Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *