Natih's Diary,  Post Highlight

Pengalaman Lasik Relex Smile di Rs Mata Bali Mandara (Part 1)

Selama 10 tahun ini hidup saya selalu bergantung dengan kacamata. Kalau misalnya ada gempa hebat sekalipun, benda pertama yang akan saya selamatkan adalah kacamata. Ya, kacamata dengan lensa tebal ini adalah imbas dari aktivitas menatap layar komputer dan HP yang tidak terkontrol dan himbauan untuk menjaga kesehatan matapun  juga sering saya abaikan.

Foto random dari tahun 2010 – 2020 😀

Saya memakai kacamata  dari  tahun 2010 saat masih duduk di kelas 1 SMP. Mata saya ketahuan rabun jauh (minus) karena waktu masa orientasi saya kebagian duduk di tengah-tengah. Alhasil saya tidak bisa membaca huruf pada slide dari tempat dimana saya duduk waktu itu. Saat pertama kali cek mata ke optik, minus mata saya sudah tinggi yaitu -2,5 kiri kanan. Mau tidak mau, wajib yang namanya pakai kacamata. Sejak saat itu saya dikenal sebagai Natih si gadis mungil berkacamata. Rutinitas sehari-hari yang menuntut untuk selalu di depan komputer membuat rabun  mata ini kian bertambah. Mulai dari -2,5 menjadi -3,75 ditambah silinder 2,75. Setahun kemudian menjadi -4 dan silinder 3, dan tahun 2019 mata kiri saya -5,5 dan silinder 2,75 sedangkan mata kanan -5,75 dan silinder 3. Kebayangkan seberapa tebalnya kacamata yang saya pakai waktu itu?

Ini adalah kacamata terakhir yang saya gunakan sebelum operasi lasik. Lensa ini sudah dipertipis 2 kali agar bisa sesuai dengan framenya. Padahal sudah dipertipis, namun masih tebal ya? huhu

Minus dan silinder yang tinggi itu membuat saya merasa tidak nyaman dan sakit kepala setiap hari. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk operasi lasik. Keinginan yang kuat untuk operasi lasik itulah yang mengantarkan saya ke Jepang mencari modal untuk biaya operasi lasik, karena biaya lasik mata saat ini belum dicover oleh asuransi kesehatan apalagi BPJS. Setelah 1 tahun berlalu dan kembali dari Jepang, akhirnya saya benar-benar siap untuk operasi lasik.

Sebenarnya lasik itu apa sih?

LASIK adalah singkatan Laser-Assisted in Situ Keratomileusis.  Lasik dapat diartikan sebagai pembedahan yang menggunakan laser untuk mengoreksi fungsi penglihatan mata. Prosedur ini bertujuan untuk memperbaiki kesalahan bias dengan membentuk kembali kornea. Dengan operasi ini, cahaya yang jatuh pada kornea dapat benar-benar fokus pada retina.

Persyaratan Operasi Lasik

  • Berusia 18 tahun keatas
  • Kondisi mata dalam keadaan sehat
  • Melepas Soft Contact Lens selama minimal 14 hari sebelum Skreening Lasik
  • Melepas Hard Contact Lens selama minimal 30 hari sebelum Skreening Lasik
  • Tidak Sedang Hamil atau Menyusui

Saya melakukan operasi lasik mata di RS Mata Bali Mandara yang berlokasi di Jl. Angsoka No.8 80236 Denpasar Utara Bali. Dulu, RS Mata Bali Mandara ini dikenal dengan nama RS Indera Mata. Untuk pasien yang baru pertama kali datang ke RS Mata Bali Mandara, wajib melakukan registrasi terlebih dahulu di loket. Biaya registrasinya adalah Rp 185.000.

Setelah registrasi dan menerima kartu berobat, kita akan diarahkan menuju ruangan khusus lasik di lantai 3

Berikut adalah prosedur lasik mata di RS Mata Bali Mandara.

  1. Screening (Pre-lasik)
  2. Operasi lasik
  3. Kontrol Pasca lasik

SCREENING

Saya melakukan screening lasik pada 18 Mei 2020. Screening adalah tahap awal yang harus dilakukan sebelum operasi lasik. Screening ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan mata secara menyeluruh dan hasil dari screening inilah yang menentukan apakah mata kita bisa dilasik atau tidak. Biaya screening di RS Mata Bali Mandara sejumlah Rp 900.000. Adapun pemeriksaan saat screening terdiri dari :

  1. Pemeriksaan lebar pupil

Pupil adalah bagian hitam yang terletak di tengah iris yang fungsinya untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata. Ketika cahaya terlalu terang, pupil secara reflex akan mengecil. Sebaliknya, dalam cahaya gelap, pupil membesar. Menurut informasi yang saya baca, seseorang yang memiliki pupil lebih besar dari ukuran normal biasanya mungkin tidak dapat menjalani LASIK mata. Pupil yang besar meningkatkan risiko efek samping di mana mata menjadi sensitif terhadap cahaya. Contohnya, jadi melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu (halo), sensasi silau (glare), atau efek starbursts dalam kondisi cahaya redup. Ini dapat membahayakan seseorang, terlebih jika sering menyetir kendaraan di malam hari.

2. Pemeriksaan ukuran minus dengan Snellen Chart.

Snellen chart adalah poster yang berfungsi untuk mendeteksi tajam penglihatan seseorang. Pada saat melakukan test dengan Snellen chart dan test menggunakan alat khusus, saya kaget sekali ternyata ukuran minus mata saya lebih tinggi dari ukuran kacamata sebelumnya. Mata saya jadi minus -6.5 dan silinder 4 untuk mata kanan. Sedangkan mata kiri -5.5 dan silinder 3,75. Pantas saja setiap hari saya selalu merasa pusing T.T

Ini adalah contoh Snellent chart yang biasa kita temukan di optik-optik. Di RS Mata Bali Mandara menggunakan snellent chart berbasis komputer

3. Pemeriksaan Tekanan Bola Mata

Test selanjutnya adalah pemeriksaan tekanan bola mata. Disini prosesnya tidak sakit sama sekali tetapi hanya kaget saja karena akan ada seperti angin yang menyentuh bola mata kita.

4.  Pemeriksaan Ketebalan Kornea mata

Proses selanjutnya adalah pemeriksaan kornea mata. Sebelum diperiksa, kita akan diberikan obat tetes terlebih dahulu agar saat pemeriksaan, mata kita tidak merasakan sakit. Waktu itu saya diminta untuk membuka mata lebar-lebar, lalu ada semacam alat yang dimasukan ke mata. Agar tidak panik, saya diminta untuk menghitung berapa kali suara beep yang terdengar dari alat itu, dan saya selalu salah menghitung karena saking paniknya. Haha

Ketebalan kornea ini amat sangat menentukan apakah mata kita layak dilasik atau tidak. Jika minusnya tinggi dan korneanya tipis kemungkinan mata kita tidak bisa kembali normal, melainkan hanya mengurangi ukuran minus saja.

Ini adalah hasil pemeriksaan kornea mata saya. Yang kanan tebalnya 516 mikron, sedangkan yang kiri 522 mikron

5.  Pemeriksaan Fundus / Saraf Retina

Selain ketebalan kornea, kondisi saraf retina juga sangat menentukan layak/tidaknya mata kita dilasik. Jika kondisi sarafnya bagus, maka bisa segera dilakukan tindakan hlasik, jika saraf retinanya rapuh, maka dokter menyarankan agar kita melakukan prosedur laser retina terlebih dahulu.

Hasil pemeriksaan fundus atau saraf retina mata saya 😀

Setelah mengikuti semua rangkaian secreening, dokter akan mengevaluasi hasil screening. Kebetulan, dokter yang menangani saya waktu itu adalah dr. Cok Istri Dewiyani Pemayun, Sp.M (K). Saya sudah harap-harap cemas dan khawatir jangan-jangan setelah lasik, matanya tidak bisa kembali normal karena ketebalan korena yang kurang memadai dan saraf retina yang rapuh. Setelah dievaluasi, saya sangat bersyukur ketebalan kornea saya memadai, saraf retina masih bagus, lebar pupil normal, dan tekanan bola mata saya juga normal sehingga tindakan lasik bisa segera dilakukan bahkan mata saya bisa kembali normal alias minus dan silindernya hilang. Yeay!

Hasil screening mata saya di RS Mata Bali Mandara. Dalam list itu terlihat bahwa sisa kornea saya setelah dilasik adalah 261 dan 258 yang artinya kornea saya masih memiliki ketebalan yang cukup untuk menghilangkan minus dan silindernya menjadi 0. Saya pernah baca di salah satu sumber yang menyatakan bahwa ketebalan kornea pasien yang dilasik harus masih sisa minimal 250 mikron

Metode tindakan lasik di RS Mata Bali Mandara ada 2 metode, yaitu :

  1. Femto Lasik

FemtoLASIK adalah tindakan LASIK untuk mengkoreksi atau memperbaiki myopia (rabun jauh/mata minus) dan astigmatisma (mata silinder) dengan menggunakan laser pada kornea dimana prosesnya itu dilakukan oleh 2 mesin laser. Laser femtosecond untuk membuat bukaan pada permukaan kornea & Laser excimer untuk mengkoreksi kelainan refraksi. Lebih lengkapnya, bisa disimak pada video animasi berikut ini.

  1. Relex SMILE

ReLEx® SMILE (Refractive Lenticule Extraction, Small Incision Lenticule Extraction) adalah metode bedah refraktif yang dapat mengkoreksi kelainan refraksi dengan menggunakan mesin laser (tanpa pisau) dan hanya menggunakan 1 mesin laser saja yaitu femtosecond laser dan resiko mata kering serta komplikasinya pun sangat minimal. Lebih lengkapnya, proses operasi dengan Relex SMILE bisa disimak pada video animasi berikut ini.

Setelah berbagai pertimbangan dan rekomendasi oleh dokter, saya memutuskan untuk memilih RELEX SMILE daripada Femto Lasik. Meski harganya jauh lebih mahal, tetapi resiko komplikasi yang minimal membuat saya memilih RELEX SMILE daripada Femto Lasik. Selain itu juga karena saya orangnya gak bisa diam apalagi saya adalah orang awan. Saya khawatir saat operasi nanti saya malah gugup dan operasinya tidak berjalan maksimal.

Setelah memilih metode lasik, saya pun dijadwalkan untuk melakukan tindakan lasik pada 22 Mei 2020 dan saya percaya hari itu adalah hari dimana saya bisa akan kembali melihat dunia.

Proses lasik dan pasca lasik yang saya alami bisa di baca pada artikel berikut. 

Ni Made Ayu Natih Widhiarini

I have always been interested in tourism and hospitality research. I am enthusiastic person and willing to learn.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

English English Indonesian Indonesian Japanese Japanese