Culture,  Research,  Tourism

Mengenal Entil, Makanan Khas Tabanan Yang Lagi Hits

Sabtu, 19 Juni 2021 saya berkesempatan untuk ikut serta dalam road trip research IPB Internasional dengan Indonesian Chef Association. Kali ini destinasi wisata kuliner yang dituju adalah Kabupaten Tabanan,Bali. Sepanjang perjalanan saya menerka-nerka, apa sih makanan khas Tabanan yang tidak ada di tempat lain?

Pertanyaan tersebut akhirnya terjawab ketika rombongan kami sampai di Desa Sanda, sebuah desa yang saat ini sedang berkembang sebagai Desa Wisata. Desa Sanda terletak di Kecamatan Pupuan,Kabupaten Tabanan, sekitar 1 jam 45 menit dari Kota Denpasar. Desa Sanda memiliki makanan khas yangdisebut Entil. Meskipun Entil mirip dengan lontong yang biasa kita jumpai di warung sate atau ketupat yangsering dimakan saat lebaran,  Entil ternyata memiliki cerita unik yang menarik untuk diketahui lho! Proses memasak Entil sama seperti lontong dan ketupat pada umumnya, yaitu direbus dengan api sedang selama 4 – 5 jam sampai benar-benar lepah (berasnya matang sempurna dan melekat satu sama lain).  

Tekstur Entil yang lepah dan lembut setelah dimasak selama 4 – 5 jam

Lalu apa yang membuat Entil berbeda dari lontong atau ketupat pada umumnya?

Entil – Makanan khas Pupuan, Tabanan dihidangkan dengan kuah, telur rebus, keripik talas, sayur ubi, dan daging ayam suwir

Bahan yang digunakan untuk membuat Entil tidak hanya beras putih namun juga dicampur dengan beras merah untuk mempercantik tampilan Entil dengan perbandingan 3 : 1. Perbedaan yang mendasar antara Entil dan lontong dapat dilihat dari pembungkusnya. Lontong dan ketupat pada umumnya dibungkus menggunakan daun pisang dan janur kelapa, sedangkan Entil dibungkus menggunakan daun Kalingidi (menyerupai daun kunyit tetapi tidak berbau).

Selain enak, entil juga kaya makna filosofi yang didasari oleh ritual dan upacara sesuai keyakinan Umat Hindu. Berdasarkan penuturan Ibu Srinasih dan Bapak Putu Wijana selaku pemilik usaha “Warung Dedi Entil Sanda”, Entil sebenarnya hanya dimasak sebagai sesajen saat Hari Raya Ulihan saja. Sejak dulu, Entil dimasak oleh masyarakat Pupuan sebagai persembahan kepada Tuhan saat upacara Ulihan Galungan yang mengandung makna sebagai hari memberikan oleh-oleh kepada Dewa Pitara atau leluhur pada saat kembali ke Kahyangan. Ulihan juga mengandung makna “kembali” yang diharapkan agar seluruh umat kembali ke kondisi bathin yang damai sama seperti saat hari raya Kemenangan (Galungan) dan terus mempertahankannya dengan mengarahkan pikiran kepada hal-hal yang positif.

Membungkus entil bersama Ibu Srinasih dan Team Research IPB Internasional

Melihat Entil sebagai makanan yang kaya filosofi, Dinas Koperasi Kabupaten Tabanan mengajak masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi Entil sebagai salah satu produk wisata kuliner khas Pupuan dan mempromosikannya pada pergelaran-pergelaran seperti pameran dan festival kuliner. Terbukti, kini Entil menjadi makanan khas yang sangat diminati oleh masyarakat, terutama oleh wisatawan yang sengaja datang ke Pupuan hanya untuk mencicipi Entil. Jika dulu Entil dimasak dan dihidangkan bersama urutan (sosis babi ala Bali), dendeng asap, krupuk babi, dan tum daun ubi, kini Entil dihidangkan dengan kuah, telur rebus, sayur ubi, kacang, serundeng, dan daging ayam suwir yang menggugah selera. Ditambah camilan keripik keladi yang renyah. Uhh mantappzz!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

English English Indonesian Indonesian Japanese Japanese