<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	
	>
<channel>
	<title>
	Komentar di: Dokar Hias : Sarana Transportasi Tradisonal Denpasar Heritage City Tour	</title>
	<atom:link href="https://natih.net/dokar-hias-sarana-transportasi-tradisonal-denpasar-heritage-city-tour/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://natih.net/dokar-hias-sarana-transportasi-tradisonal-denpasar-heritage-city-tour/</link>
	<description>Researching, Blogging, Traveling</description>
	<lastBuildDate>Sun, 31 Mar 2019 14:02:40 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.5</generator>
	<item>
		<title>
		Oleh: Ni Made Ayu Natih Widhiarini		</title>
		<link>https://natih.net/dokar-hias-sarana-transportasi-tradisonal-denpasar-heritage-city-tour/#comment-33</link>

		<dc:creator><![CDATA[Ni Made Ayu Natih Widhiarini]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Feb 2019 00:58:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://natih.net/?p=1176#comment-33</guid>

					<description><![CDATA[Ya ms, daripada rebutan, mending mengalah saja. Tapi itu ramai warga lokal karena gratis ms (Setiap Sabtu dan Minggu), kalau weekdays kena charge between Rp 40k - Rp 80k tergantung rutenya. 
Saat kami berkunjung kesana, tidak ada tourist asing terpantau, namun menurut informasi Pak Kusir, tourist bakalan ramai saat weekdays, mungkin biar bisa lebih leluasa, gak usah antri kali ya.. 
Kalau dari segi efektivitas, tentunya ini perlu sekali untuk ditingkatkan lagi. Masih banyak hal yang perlu dibenahi kalau menurut saya. Pertama dari wawasan kusirnya, ketersediaan tempat parkir, dan jalur khusus agar tidak menganggu dan diganggu pengendara motor/mobil. Disana siang-siang macetnya minta ampun, suara klakson dimana-dimana yang bisa saja menganggu kenyamanan wisatawan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya ms, daripada rebutan, mending mengalah saja. Tapi itu ramai warga lokal karena gratis ms (Setiap Sabtu dan Minggu), kalau weekdays kena charge between Rp 40k &#8211; Rp 80k tergantung rutenya.<br />
Saat kami berkunjung kesana, tidak ada tourist asing terpantau, namun menurut informasi Pak Kusir, tourist bakalan ramai saat weekdays, mungkin biar bisa lebih leluasa, gak usah antri kali ya..<br />
Kalau dari segi efektivitas, tentunya ini perlu sekali untuk ditingkatkan lagi. Masih banyak hal yang perlu dibenahi kalau menurut saya. Pertama dari wawasan kusirnya, ketersediaan tempat parkir, dan jalur khusus agar tidak menganggu dan diganggu pengendara motor/mobil. Disana siang-siang macetnya minta ampun, suara klakson dimana-dimana yang bisa saja menganggu kenyamanan wisatawan</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
		<item>
		<title>
		Oleh: Putu Devi Rosalina		</title>
		<link>https://natih.net/dokar-hias-sarana-transportasi-tradisonal-denpasar-heritage-city-tour/#comment-32</link>

		<dc:creator><![CDATA[Putu Devi Rosalina]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2019 14:34:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://natih.net/?p=1176#comment-32</guid>

					<description><![CDATA[Wah keren.. Well explained and well informed. Kesel banged pasti ya diserobot ibu ibu, hehee. Miss belum tau ada ini nih, padahal deket rumah, hehe. By the way, yang ngantre ada turis kah? Menurut Natih apakah sudah efektif? Atau kurang promosi mungkin ya. Bisa jadi penelitian ini :)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wah keren.. Well explained and well informed. Kesel banged pasti ya diserobot ibu ibu, hehee. Miss belum tau ada ini nih, padahal deket rumah, hehe. By the way, yang ngantre ada turis kah? Menurut Natih apakah sudah efektif? Atau kurang promosi mungkin ya. Bisa jadi penelitian ini 🙂</p>
]]></content:encoded>
		
			</item>
	</channel>
</rss>
