Tourism

Tak Terlupakan, Begini Serunya Glamping Alias Glamour Camping di Sunrise Hill Camp

Padatnya suasana Kota Denpasar ditambah penatnya rutinitas kantor membuat saya ingin kabur sejenak. Meskipun sudah sering me time dengan membaca buku, dengerin lagu, yoga dan meditasi atau sekedar piknik di tepi pantai tetap saja tidak menimbulkan efek yang signifikan. Saya tetap saja lelah dan jenuh. Hmmm… sepertinya memang harus istirahat sejenak dari rutinitas mengesalkan ini.

Belum lagi berita-berita tentang Covid-19 yang belum terbukti kebenarannya bertebaran di media sosial membuat suasana hati jadi makin parno. Kapan sih pandemi ini usai?

Untuk me-recharge energi dan mengembalikan mood yang akhir-akhir ini sering terjun bebas gak jelas, saya mulai mencari beberapa referensi tempat wisata yang tetap buka di tengah pandemi namun sudah menerapkan protokol kesehatan yang baik. Alih-alih memilih staycation di villa atau hotel berbintang, saya lebih tertarik untuk menyegarkan pikiran pada destinasi alam yang ramah lingkungan. Akhirnya pilihan saya jatuh pada glamping.

Apa itu Glamping sudah pernah saya ulas pada artikel sebelumnya. Jadi, sebelum lanjut membaca artikel ini ada baiknya kamu baca dulu artikel sebelumnya yaa! Silakan klik disini.

Sebenarnya, glamping merupakan salah satu wishlist saya dari tahun 2018 yang belum pernah kesampaian. Pada dasarnya saya orangnya suka kemah dan berpetualang namun sering kali terbentur oleh kegiatan lain yang menyita waktu dan perhatian. Sampai akhirnya terjadi juga di tahun 2021, uhuy! Kali ini saya tidak sendiri, ditemenin doi agar kami juga bisa mengabadikan moment bersama. Ciee…

Lokasi yang kami pilih untuk glamping kali ini adalah Sunrise Hill Camp yang terletak di Desa Songan, Kintamani. Yes! Kintamani merupakan salah satu destinasi perkemahan yang sudah sangat terkenal di Bali karena bentang alamnya yang sejuk dengan panorama barisan Gunung Batur, Gunung Abang dan Danau Batur yang bikin hati adem. Selain camping dan glamping, Desa Songan di Kintamani juga sangat terkenal akan pemandian air panas bak onsen layaknya di Jepang. Pernah mendengar Toya Bungkah atau Toya Devasya? Nah itu dia!

Matahari sedang terik-teriknya ketika kami berangkat dari Denpasar pukul 10.00 WITA. Jarak dari rumah saya ke Sunrise Hill Camp adalah sekitar 54 km yang dapat ditempuh selama 1,5 jam berkendara pakai sepeda motor. Sebenarnya kami cukup was-was karena bepergian di tengah pandemi seperti ini. Untung saja kami berdua sudah tervaksin Covid-19 dan kami yakin Sunrise Hill Camp sudah menerapkan protokol kesehatan yang sangat baik.

Suasana jalan sangat lenggang ketika kami melintasi wilayah Ubud. Jalan yang biasa ramai dengan wisatawan sekarang sepi, kosong melompong, huhuhu. Cepat sembuh yaa bumiku, biar pariwisata bisa bangkit lagi.

Setelah 1,5 jam berkendara akhirnya kami tiba di kawasan Kintamani. Udara sejuk bercampur hangat mulai terasa, segarnya… lebih jauh ke bawah kami tiba di Desa Songan. Kanan dan kiri berjejer pertanian bawang dan cabai rawit para warga sekitar. Sebelum masuk lebih jauh kami melipir sebentar ke Ampupu Kembar (Eugalyptus) untuk sekadar mengambil beberapa foto. Maklum, tempatnya instagramable sih, hehehe

Setelah puas foto-foto kami melanjutkan perjalanan. Oh ya, disepanjang jalan menuju Sunrise Hill Camp juga terdapat spot yang tak kalah instagramable, yaitu Lava Temuli yang merupakan lava dingin yang membeku saat letusan Gunung Batur beberapa dekade silam. Kami pun juga mengambil beberapa foto disana.

Ternyata untuk menuju Sunrise Hill Camp kami memerlukan sedikit usaha lagi, tempatnya masuk ke dalam sejauh 800 m, jalannya memang berkerikil, jadi harus hati-hati. Untungnya petunjuk arah selalu ada selang beberapa meter agar pengunjung tidak tersesat.

And then…

Sampailah kami pada destinasi yang ditunggu-tunggu.

Tenda Sunrise Hill Camp

Sunrise Hill Camp adalah salah satu destinasi glamping yang berdiri sejak akhir tahun 2019 yang dikelola oleh warga lokal di Kintamani. Sesuai dengan namanya, Sunrise Hill Camp ternyata terletak pada ketinggian. Awalnya saya kira malah letaknya persis di tepi Danau Batur. Sampai saat ini Sunrise Hill Camp hanya memiliki 6 tenda berbentuk limas seperti tenda-tenda pada pramuka pada umumnya. Saat itu, keenam tenda tersebut Fully Book. Ada yang ngajak pasangan seperti kami, keluarga, dan bahkan ada yang mengajak anaknya yang masih berumur 10 bulan untuk Glamping. Gemeshh bangeet.

Pemandangan Gunung Abang dan Danau Batur

Setelah check in dan masuk ke dalam tenda, saya langsung mencium aroma reed diffuser vanilla yang menenangkan. Kebetulan saya sangat suka aroma terapi varian vanilla karena bisa membuat pikiran relax. Belum apa-apa saya sudah merasa gak pengen pulang. Hehehe

Fasilitas di dalam kamar terdiri dari 1 buah tempat tidur queen size, lemari, handuk, kipas, air cooler, dan beberapa photoshoot kit yang bisa digunakan untuk foto-foto ala selebgram. Interiornya sangat estetik dan ramah lingkungan. Saya suka~

Setelah mengeluarkan pakaian dan menyimpannya di lemari, kami langsung menikmati fasilitas yang ada. Yang paling buat keren adalah fasilitas kolam renangnya langsung menghadap Danau Batur dan Gunung Abang. Cantik sekali~

Kolam renang yang langsung menghadap Gunung Abang dan Danau Batur

Kami juga mencoba wahana swing yang ada di samping kolam renang. Tak lupa, buku Filosofi Teras yang sedang saya baca juga ikut menjadi properti foto-foto.

Selain menyediakan tenda yang estetik, pihak pengelola juga menyediakan photoshoot kit yang akan di set up di depan tenda. Inilah spot yang menurut saya paling instagramable.

 

Bagaimana dengan fasilitas makanan dan minumannya?

Tenang, Sunrise Hill Camp juga menyediakan layanan makanan dan minuman dari breakfast – dinner. Karena letaknya cukup jauh dari jalan besar, kami memutuskan untuk memesan 2 set yakiniku yang juga bisa dinikmati di depan tenda sambil lihat bintang-bintang bertaburan pada malam hari. So  romantic~

Semakin malam cuaca semakin dingin, staff Sunrise Hill Camp yang ramah juga memberikan atraksi Api Unggun untuk sekadar menghangatkan badan. Setelah itu kami juga menyalakan beberapa kembang api yang juga merupakan bagian dari wishlist kami. Keesokan harinya, setelah sarapan dan berkemas, kami check out dengan suasana hati yang gembira. Sebelum kembali ke Denpasar, kami tidak melewatkan menikmati kuliner khas Kintamani, yaitu mujair nyat-nyat.

Overall, kami sangat puas dengan short vacation kali ini. Cukup satu kekurangannya, sayangnya shower roomnya hanya 2 jadi harus sharing dengan wisatawan yang lain.

Bagaimana menurutmu? Apa kamu tertarik untuk glamping di Sunrise Hill Camp?

Kasih tahu di kolom komentar ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

English English Indonesian Indonesian Japanese Japanese