Saya pernah belajar tentang pentingnya menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) melalui sebuah kegagalan.
Beberapa tahun lalu, saya sempat mencoba berjualan lilin aromaterapi. Saat menentukan harga jual, saya hanya menghitung biaya bahan baku utama yang digunakan untuk membuat lilin. Setelah itu, saya menambahkan margin keuntungan dan merasa harga jual yang ditetapkan sudah cukup tepat.
Di atas kertas, usaha tersebut terlihat menghasilkan keuntungan. Namun, setelah berjalan, hasil penjualan ternyata tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang saya keluarkan. Saya baru menyadari bahwa ada banyak biaya pendukung yang tidak saya masukkan ke dalam perhitungan, seperti kemasan, penggunaan peralatan, listrik, produk percobaan yang gagal, serta waktu dan tenaga selama proses produksi.
Akibatnya, harga jual yang saya tetapkan terlalu rendah dan keuntungan yang saya bayangkan sebenarnya tidak benar-benar ada. Kesalahan dalam menghitung HPP memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan usaha, tetapi dalam pengalaman saya, hal tersebut menjadi salah satu penyebab utama bisnis lilin aromaterapi itu tidak dapat bertahan.
Dari pengalaman tersebut, saya memahami satu hal penting: produk yang terjual belum tentu menghasilkan keuntungan apabila biaya produksinya tidak dihitung secara lengkap.
Perhitungan HPP yang akurat membantu pelaku usaha mengetahui jumlah biaya yang benar-benar diperlukan untuk menghasilkan sebuah produk. Informasi tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan harga jual, menetapkan target keuntungan, menyusun strategi pemasaran, dan merencanakan pengembangan usaha.
Hindari Mengabaikan Biaya Pendukung

Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi saat menghitung HPP adalah hanya memasukkan biaya bahan baku utama. Hal inilah yang pernah saya lakukan ketika menjalankan usaha lilin aromaterapi.
Saat itu, perhatian saya hanya tertuju pada bahan yang secara langsung terlihat di dalam produk. Padahal, proses produksi juga membutuhkan berbagai biaya lain yang jumlahnya mungkin terlihat kecil, tetapi jika dikumpulkan dapat memberikan pengaruh cukup besar.
Secara sederhana, komponen biaya produksi dapat dikelompokkan menjadi:
- Biaya bahan baku yang digunakan untuk membuat produk.
- Biaya kemasan yang menjadi bagian dari produk yang dijual.
- Biaya tenaga kerja yang terlibat secara langsung, termasuk tenaga pemilik usaha sendiri.
- Biaya listrik, air, atau kebutuhan operasional selama proses produksi.
- Biaya penggunaan dan penyusutan peralatan.
- Biaya pemeliharaan peralatan produksi.
- Biaya produk percobaan, produk rusak, atau bahan yang terbuang.
Banyak pelaku UMKM tidak memasukkan biaya tenaga sendiri karena merasa seluruh proses dikerjakan tanpa membayar karyawan. Padahal, waktu dan tenaga pemilik usaha tetap memiliki nilai ekonomi yang perlu diperhitungkan.
Secara sederhana, HPP per produk dapat dihitung menggunakan rumus:
HPP per unit = Total biaya produksi ÷ Jumlah produk layak jual
Jumlah produk layak jual perlu diperhatikan. Jika dari 100 produk yang dibuat hanya 95 produk yang dapat dijual, biaya produksi sebaiknya dibagi dengan 95 produk, bukan 100 produk. Dengan demikian, biaya akibat produk rusak atau gagal tetap ikut diperhitungkan.
Namun, bukan berarti seluruh pengeluaran usaha harus dimasukkan ke dalam HPP. Biaya seperti iklan, administrasi marketplace, dan kebutuhan kantor dapat dicatat sebagai biaya pemasaran atau biaya operasional. Meskipun tidak selalu menjadi bagian langsung dari HPP, biaya tersebut tetap perlu dipertimbangkan ketika menentukan harga jual dan target keuntungan.
Baca juga: Cara Apply Kartu Kredit BCA
Jangan Menggunakan Data yang Sudah Tidak Sesuai

Harga bahan baku dan biaya operasional dapat berubah dari waktu ke waktu. Harga yang digunakan saat menghitung HPP tiga bulan lalu belum tentu masih sesuai dengan kondisi saat ini.
Menggunakan data lama tanpa melakukan pembaruan dapat membuat HPP terlihat lebih rendah daripada biaya produksi sebenarnya. Akibatnya, pelaku usaha mungkin tetap menjual produk dengan harga yang sama meskipun keuntungan terus berkurang.
Untuk menghindarinya, pelaku usaha dapat melakukan beberapa langkah berikut:
- Mencatat harga bahan setiap kali melakukan pembelian.
- Memperbarui perhitungan ketika terjadi perubahan harga dari pemasok.
- Membandingkan harga dari beberapa pemasok secara berkala.
- Memeriksa perubahan biaya listrik, kemasan, dan kebutuhan produksi lainnya.
- Melakukan evaluasi HPP sebelum menetapkan promosi atau potongan harga.
Pembaruan data juga membantu pelaku usaha mengenali perubahan biaya lebih awal. Dengan demikian, penyesuaian harga jual dapat dilakukan secara terencana, bukan ketika kondisi keuangan usaha sudah mulai terganggu.
Lakukan Pencatatan Secara Teratur
Kesalahan dalam menghitung HPP sering kali bukan terjadi karena pelaku usaha tidak memahami rumus, melainkan karena data pengeluarannya tidak tersedia secara lengkap.
Ketika pembelian bahan, biaya kemasan, dan pengeluaran produksi tidak dicatat dengan rapi, pelaku usaha akhirnya hanya mengandalkan ingatan. Cara tersebut sangat berisiko karena pengeluaran kecil mudah terlupakan.
Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan antara lain:
- Mencatat seluruh pengeluaran yang berkaitan dengan produksi.
- Memisahkan uang usaha dari uang pribadi.
- Mengelompokkan biaya bahan baku, tenaga kerja, dan biaya pendukung.
- Menyimpan nota atau bukti transaksi.
- Mencatat jumlah produk yang berhasil diproduksi dan layak dijual.
- Memeriksa kembali catatan biaya secara berkala.
- Menggunakan format pencatatan yang sederhana dan mudah dipahami.
Pencatatan tidak harus langsung menggunakan sistem yang rumit. Buku kas, spreadsheet, atau aplikasi pencatatan sederhana sudah cukup selama digunakan secara konsisten.
Data yang tertata akan memudahkan pelaku usaha mengetahui apakah suatu produk benar-benar menghasilkan keuntungan atau hanya terlihat menguntungkan karena beberapa biaya belum dicatat.
Jadikan Evaluasi sebagai Kebiasaan dalam Bisnis

Menghitung HPP bukanlah kegiatan yang cukup dilakukan satu kali ketika produk pertama kali diluncurkan. Perubahan harga bahan, jumlah produksi, proses kerja, dan kondisi pasar dapat memengaruhi biaya yang harus dikeluarkan.
Karena itu, evaluasi perlu dilakukan secara rutin. Pelaku usaha dapat memeriksa beberapa hal berikut:
- Apakah harga bahan baku mengalami kenaikan?
- Apakah terdapat terlalu banyak bahan yang terbuang?
- Apakah jumlah produk gagal meningkat?
- Apakah proses produksi dapat dibuat lebih efisien?
- Apakah harga jual masih memberikan keuntungan yang wajar?
- Apakah ada pemasok lain yang menawarkan harga dan kualitas lebih baik?
Evaluasi HPP bukan hanya dilakukan untuk menaikkan harga. Dari proses tersebut, pelaku usaha juga dapat menemukan peluang untuk mengurangi pemborosan, memperbaiki proses produksi, dan meningkatkan efisiensi tanpa menurunkan kualitas produk.
Selain menghitung biaya produksi, pengelolaan transaksi keuangan yang tertata juga membantu pelaku usaha mengambil keputusan berdasarkan data. Dukungan layanan perbankan dari BCA dapat dimanfaatkan untuk membantu kelancaran transaksi dan memudahkan pelaku usaha mengelola aktivitas keuangan secara lebih praktis dan terencana.
Pengalaman gagal berjualan lilin aromaterapi mengajarkan saya bahwa semangat dan produk yang menarik saja belum cukup. Sebuah usaha juga membutuhkan perhitungan yang realistis.
Dengan menghitung HPP secara lengkap, menggunakan data biaya terbaru, serta melakukan pencatatan dan evaluasi secara teratur, pelaku usaha dapat menetapkan harga jual yang lebih tepat. Keuntungan pun tidak lagi sekadar terlihat di atas kertas, tetapi benar-benar tercermin dalam kondisi keuangan usaha.




