Tourism

Mengenal Entil, Makanan Khas Tabanan Yang Kaya Filosofi

Makanan khas di Indonesia sangatlah beragam. Jangankan seluruh Indonesia, pulau kecil seperti Bali pun memiliki banyak sekali makanan khas Bali yang unik dan menggugah selera.

Seperti halnya ketika saya berkesempatan untuk ikut serta dalam road trip research IPB Internasional dengan Indonesian Chef Association. Kali ini destinasi wisata kuliner yang dituju adalah Kabupaten Tabanan, Bali.

Katanya, kuliner khas Tabanan satu ini tidak ada ditempat lain. Sepanjang perjalanan saya menerka-nerka, apa sih makanan khas Tabanan yang tidak ada di tempat lain?

Pertanyaan tersebut akhirnya terjawab ketika rombongan kami sampai di Desa Sanda, sebuah desa yang saat ini sedang berkembang sebagai Desa Wisata.

Desa Sanda terletak di Kecamatan Pupuan,Kabupaten Tabanan, sekitar 1 jam 45 menit dari Kota Denpasar. Desa Sanda memiliki makanan khas yang disebut Entil. Meskipun Entil mirip dengan lontong yang biasa kita jumpai di warung sate atau ketupat yang sering dimakan saat lebaran,  Entil ternyata memiliki cerita unik yang menarik untuk diketahui lho!

Proses memasak Entil sama seperti lontong dan ketupat pada umumnya, yaitu direbus dengan api sedang selama 4 – 5 jam sampai benar-benar lepah (berasnya matang sempurna dan melekat satu sama lain).  

Tekstur Entil yang lepah dan lembut setelah dimasak selama 4 – 5 jam

Lalu apa yang membuat Entil berbeda dari lontong atau ketupat pada umumnya?

entil-makanan-khas-tabanan-yang-unik
Entil – Makanan khas Pupuan, Tabanan dihidangkan dengan kuah, telur rebus, keripik talas, sayur ubi, dan daging ayam suwir

Bahan yang digunakan untuk membuat Entil tidak hanya beras putih namun juga dicampur dengan beras merah untuk mempercantik tampilan Entil dengan perbandingan 3 : 1.

Perbedaan yang mendasar antara Entil dan lontong dapat dilihat dari pembungkusnya. Lontong dan ketupat pada umumnya dibungkus menggunakan daun pisang dan janur kelapa, sedangkan Entil dibungkus menggunakan daun Kalingidi (menyerupai daun kunyit tetapi tidak berbau).

Mengenal-entil-makanan-khas-tabanan

Selain enak, entil juga kaya makna filosofi yang didasari oleh ritual dan upacara sesuai keyakinan Umat Hindu. Berdasarkan penuturan Ibu Srinasih dan Bapak Putu Wijana selaku pemilik usaha “Warung Dedi Entil Sanda”, Entil sebenarnya hanya dimasak sebagai sesajen saat Hari Raya Ulihan saja.

Sejak dulu, Entil dimasak oleh masyarakat Pupuan sebagai persembahan kepada Tuhan saat upacara Ulihan Galungan yang mengandung makna sebagai hari memberikan oleh-oleh kepada Dewa Pitara atau leluhur pada saat kembali ke Kahyangan.

Ulihan juga mengandung makna “kembali” yang diharapkan agar seluruh umat kembali ke kondisi bathin yang damai sama seperti saat hari raya Kemenangan (Galungan) dan terus mempertahankannya dengan mengarahkan pikiran kepada hal-hal yang positif.

entil-makanan-khas-tabanan
Membungkus entil bersama Ibu Srinasih dan Team Research IPB Internasional

Melihat Entil sebagai makanan yang kaya filosofi, Dinas Koperasi Kabupaten Tabanan mengajak masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi Entil sebagai salah satu produk wisata kuliner khas Pupuan dan mempromosikannya pada pergelaran-pergelaran seperti pameran dan festival kuliner.

Terbukti, kini Entil menjadi makanan khas yang sangat diminati oleh masyarakat, terutama oleh wisatawan yang sengaja datang ke Pupuan hanya untuk mencicipi Entil.

Jika dulu Entil dimasak dan dihidangkan bersama urutan (sosis  ala Bali), dendeng asap, krupuk, dan tum daun ubi, kini Entil dihidangkan dengan kuah, telur rebus, sayur ubi, kacang, serundeng,  serta daging ayam suwir yang menggugah selera. Ditambah camilan keripik keladi yang renyah. Uhh mantappzz!!

Selama perjalanan itu saya sangat bangga akan satu hal. Bagaimana masyarakat tetap merupaya melestarikan alam dan kearifan lokal mereka yang dibalut dalam kreasi kuliner yang menggugah selera.

Semoga saja semakin banyak kuliner lokal yang dapat diekpos dan menjadi makanan daerah yang mendunia.

16 Comments

  • Mechta

    Naah..saat pertama lihat saya mikir kok ada coklat2nya apa ditambah kacang merah ya? trus daunnya seperri bukan daun pisang..daun apa itu ya? Ah..terjawab dg penjelasan mba Natih selanjutnya.. Terima kasih sharingnya mba..jadi kenalan virtial dg Entil..mudah2an kapan2 bisa kenaln langsung..

  • Nuny

    Sewaktu tinggal di Bali, teman sering bikin masakan ini. Memang menyerupai lontong, hanya saja teksturnya lembut dan rasanya agak unik ada rasa beras merahnya. Dan setelah baca ini, aku baru tau kalau ini namanya Entil :). Jadi ngangenin euy.

  • Sugianto

    Bali selalu menyimpan kejutan bagi siapa yang mengunjunginya ya mbak. Lihag ulasan perjalanan dan ada menu in, jadi pengin ke bali lagi dan mencoba menikmati entik nih.
    Berarti adanya hanya di desa itu ya, mbak.

    • nyi Penengah Dewanti

      Halo mbok Natih salam kenal.
      Ibuku asli Bali juga, Karangasem yang pindah ke Surabrata gara-gara gunung meletus dulu. Allhamdulilah udah pernah makan entil, terakhir pulang Feb 2019 aku sebelum corona. Jadi kangen mudik nih.

  • Ulfah Aulia

    Baru pertama kali aku liat entil ini kak, terus penasaran entil ini makanannya eh ketemu artikel ini ternyata kaya makna ya kak…

    Semoga aja ya kak banyak makanan khas tradisional yang seperti entil ini diekspos biar semakin famous…

  • Ulfah Aulia

    Baru pertama kali aku liat entil ini kak, terus penasaran entil ini makanannya seperti apa eh ketemu artikel ini ternyata kaya makna ya kak…

    Semoga aja ya kak banyak makanan khas tradisional yang seperti entil ini diekspos biar semakin famous…

  • arip

    Berarti semacam “ketupat”-nya Ulihan Galungan. Menarik soal daun Kalingidi, kayaknya saya pernah lihat dan mungkin mudah nanemnya, bisa jadi alternatif pengganti pembungkus makanan selain daun pisang sama janur kelapa.

  • RIFQI FAUZAN SHOLEH

    Salfok sama daunnya kirain beneran sama banget seperti kupat, ternyata setelah dibaca-baca entil ini menggunakan daun kunyit sebagai bungkusnya

  • hamimeha

    macam lepet ya mbak sekilas tapi ternyata bisa pakai kuah segala wah aku jadi pensaran samarasanya nih hehe
    wah ini dijual juga kah did aerah lain ya?

  • Raja Lubis

    Semacam lontong dengan kearifan lokal Bali. Buat saya menarik juga perpaduan bahan utamanya yakni beras putih dan beras merah dicampur dengan perbandingan 3:1. Bukan hanya persoalan estetika tampilan, tapi memang beras merah itu banyak juga khasiat dan manfaatnya.

  • Dila

    Wah, bikinnya lama juga yah, direbus hingga 4-5 jam. Walaupun entil mirip lontong tapi memang banyak perbedaan seperti komposisi beras, daun pembungkus dan lama memasaknya.

    Saya baru dengar tentang kerupuk keladi natih, kayak apa yah bentuk dan rasanya.

  • Hariyanti

    Indonesia memang luar biasa, termasuk makanan khasnya. Tidak cuma cita rasa yang unik, tapi juga ada nilai filosifinya ya, kak. Menyiapkan Entil selama 4-5 jam, artinya segala sesuatu memang perlu direncanakan kemudian dipersiapkan secara baik dan matang secara sabar. Filosofis sekali!

  • Nanik K

    Entil,awalnya saya pikir semacam lepet kalo di Jawa karena ada merah-merahya, ternyata beras merah,yak.
    Ikut senang jika pemerintah daerah setempat berusaha mendorong kuliner Pupuan sebagai salah satu ragam kuliner yang ditonjolkan di indutri pariwisata Bali.
    Good luck Entil.

  • Dian Farida Ismyama

    Wah menarik ini. Entil ternyata pakai daun kalingidi. Aku bahkan belum tahu ada tanaman tersebut. Apalagi pakai nasi merah, jelas lebih sehat. Terus bikin ngiler ketika udah dicampur sama telor rebus, daun ubi, ayam suwir dll nya. Yummy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

English English Indonesian Indonesian Japanese Japanese