Tourism

Mengulik Cerita Warna-Warni Kehidupan di Serayu Pot & Terracotta

Apa yang terbesit dibenakmu ketika mendengar Ubud? Apakah desa yang tenang dengan sejuta karya seni yang mempesona ? Jika benar demikian, berarti kita satu frekuensi.

Ubud memang salah satu destinasi pariwisata di Bali yang menawarkan sensasi kehidupan harmonis bersama alam, kearifan lokal, dan seni budayanya yang mendarah daging.

Kali ini saya membuktikannya sendiri dengan mengunjungi salah satu tempat yang akhir-akhir ini sedang naik daun, Serayu Pot & Terracotta.

Serayu-Pot-Terracotta

Tidak sulit menemukan lokasi Serayu Pot & Terracotta yang instagramable ini. Dari Angantaka, tempat saya tinggal, Serayu Pot & Terracotta dapat dicapai selama 15 menit dengan sepeda motor.

Serayu Pot & Terracotta ini berlokasi di Jalan Gunung Sari, Peliatan, Ubud dan berdekatan dengan Patung Arjuna yang menjadi ikon daya tarik wisata Ubud.

“Om Swastyastu” sapa saya begitu memasuki sebuah toko kerajinan yang nyentrik dengan kerajinan gerabah warna warni tergantung di depan toko.

Salam sapaan tersebut dibalas oleh sang pemilik sekaligus seniman di Serayu Pot & Terracotta, Bapak I Wayan Cameng yang pada saat itu sedang dengan lihai mewarnai kerajinan gerabah “Jempere”.

Jempere adalah kerajinan gerabah yang kerap kali digunakan oleh masyarakat Bali saat upacara keagamaan. Oleh I Wayan Cameng dilukis dan diwarnai dengan filosofi yang unik dan menggugah hati.

Seperti apa keunikan dan filosofi yang terkandung di dalamnya? Yuk terus baca artikel ini sampai habis ya!

Sejarah Serayu Pot & Terracotta

Serayu-Pot-Terracotta

Serayu Pot dan Terracotta awalnya bernama Warung Serayu. Warung Serayu merupakan sebuah warung biasa yang menjual perlengkapan upacara agama dan upakara di Bali.

Kata “Serayu” berasal dari salah satu nama sungai yang terkenal di India, Sungai Serayu.

Pemberian nama itu terkandung filosofi “hiduplah seperti arus sungai yang mengalir, kemanapun arus sungai membawamu pergi, maka kita harus ikhlas menerimanya.” Ujar Bapak I Wayan Cameng yang identik dengan sorban yang menutupi kepala dan jenggot putihnya yang menjuntai.

Menilik dari kisahnya, Bapak I Wayan Cameng dulunya adalah pelukis yang terbiasa melukis di kanvas. Namun sejak BOM Bali 15 tahun yang lalu menimpa Bali, usahanya semakin menurun bahkan ruang untuk ia bisa mengekspresikan ide kreatifnya perlahan mulai memudar dan sepi peminat.

Oleh karena itu, untuk mengekspresikan karya seni rupanya ia iseng mewarnai seluruh jempere atau pot upakara itu dengan cat genteng  warna warni.

Serayu-pot-yang-digantung

Kemudian karya itu ditumpuk dan digantung sedemikian rupa, menghasilkan sebuah karya seni yang sangat luar biasa membentuk sebuah trowongan gua.

Karena tempatnya yang berada di pinggir jalan raya, wisatawan mulai berdatangan dan mengabadikan spot instagramable tersebut, bahkan banyak yang menggunakan lokasi itu sebagai tempat pra-wedding dan shooting video klip.

Karena popularitasnya yang semakin tinggi, akhirnya nama Warung Serayu dimodifikasi menjadi Serayu Pot & Terracotta.

Filosofi Yang Terkandung Dalam Karya Seni di Serayu Pot & Terracotta

Serayu-Pot-Terracotta

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, Serayu Pot & Terrcotta ini memiliki filosofi yang sangat luar biasa. Oleh Bapak I Wayan Cameng, saya diajak bercengkrama tentang filosofi karya-karyanya di Serayu Pot dan Terracotta yang sangat dekat dengan makna kehidupan.

Warna-warni yang tergores di setiap karyanya mencerimkan bahwa hidup selayaknya penuh dengan warna. “Jika hitam semua, tentu tidak akan bagus. Putih semua pun juga tidak bagus. Harus balance dan kalau bisa hidup ini harus penuh warna.” Ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kita juga harus selalu ikhlas dalam menjalani kehidupan ini, seperti air yang mengalir di Sungai, mengikuti arus, niscaya akan sampai pada suatu muara meskipun kadang berlika-liku.

Jika dilihat dari setiap lukisan pada pot, Sang seniman juga lebih dominan mengkreasikan seni rupanya ke arah lingkungan dan kehidupan sekitar, seperti keindahan alam Ubud, bunga, sawah, dan budaya.

Serayu-Pot-Terracotta

Seperti salah satu pot yang saya beli, terdapat motif daun dan bunga teratai. Saya membeli pot ini karena teringat akan filosofi bunga teratai.

Pada umumnya bunga teratai tumbuh di lingkungan yang kotor seperti air keruh dan lumpur. Namun, teratai mampu menutupinya dengan keindahan bunga dan daunnya yang lebar. Dengan demikian, orang yang melihatnya akan lebih fokus pada keindahan bunga teratai, bukan dengan lingkungan disekitarnya.

motif-bunga-teratai-Serayu-Terracotta

Begitu juga dalam kehidupan manusia. Walaupun berasal dari lingkungan keluarga yang dipandang rendah, hal itu bukanlah penghalang untuk kita selalu berbuat kebaikan.

Selain itu, Teratai adalah bunga yang amat disucikan oleh Agama Hindu dan digunakan untuk kepentingan upacara. Teratai merupakan stana Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan.

Bunga teratai pun dapat melindungi ikan dari teriknya matahari, membiarkan daun lebarnya  dihinggapi serangga dan membantu katak untuk melompat.

Seperti teratai,  manusia tidak perlu mengharapkan imbalan saat membantu orang lain. Tulus dan ikhlas membantu orang lain akan memberikan kita kebahagiaan yang tak terhingga.

Masih banyak filosofi yang terkandung dalam setiap pot yang dilukis oleh Bapak I Wayan Cameng, yang tentunya memiliki motif, warna, dan filosofi yang berbeda-beda.

Tanda-tangan-wayan-cameng-serayu-pot-terracotta

Saya beruntung bisa mendapatkan salah satu karya terbaik Sang Seniman + tanda tangan beliau yang sengaja saya minta dilukis pada pot teratai yang saya beli. Pot ini saya gunakan sebagai pot tanaman hias yang saya budidayakan di rumah. Lumayan banget untuk mempercantik kamar.

Tiket Masuk dan Program Yang Ditawarkan

Serayu-Pot-Terracotta

Awalnya, berkunjung dan berfoto di galeri Serayu Pot & Terracotta ini tidak dikenakan biaya alias gratis. Namun, semenjak begitu banyaknya wisatawan yang datang dan berfoto tanpa permisi, Bapak I Wayan Cameng akhirnya memutuskan untuk mengenakan tarif dengan sistem donasi seikhlasnya.

Sebelum masuk, wisatawan diharapkan berdonasi pada wadah yang telah disediakan. Bukan tanpa alasan, ia ingin agar wisatawan tidak masuk seenaknya tanpa permisi.

Selain itu, ia juga ingin agar wisatawan yang menikmati karyanya tetap hati-hati dan menjaga agar karya seni tersebut tidak tersenggol dan pecah.

Jika wisatawan ingin belajar menggambar dan mewarnai, Serayu Pot dan Terracotta juga menyediakan kelas drawing sebagai salah satu aktivitas wisata edukasi, stress healing, dan mengasah kemampuan melukis.

Tiket untuk kelasnya sebentar lagi akan tersedia di travelearn.id sebagai platform yang menjual tiket wisata edukasi di Bali dan Indonesia.

Seniman-Serayu-Pot-Terracota

Demikianlah sekilas cerita tentang Serayu Pot dan Terracota yang sarat akan filosofi warna-warni kehidupan.

Awalnya saya berekspektasi mengunjungi tempat ini hanya untuk berfoto-foto selama 10 – 15 menit. Namun ternyata banyak sekali pelajaran hidup yang bisa saya dapatkan dari Serayu Pot dan Terracotta. Apalagi, bisa bertemu dan berbincang dengan senimannya secara langsung.

Berbincang-dengan-seniman-serayu-poit-terracotta

Akhir kata, saya berharap semoga karya seni di Indonesia semakin maju sejalan dengan berkembangnya teknologi dan dunia digital.

Oh ya, saya juga upload video singkat tentang Serayu Pot & Terracotta lho, cek yuk pada video berikut

Bagaimana menurutmu? share yuk pada kolom komentar!

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

English English Indonesian Indonesian Japanese Japanese